"Semua cerita di situs ini diadaptasi/ditulis ulang untuk pelestarian budaya (tanpa klaim kepemilikan pribadi), oleh Ebi Wijaya Latumeten."

Kisah Pak Belalang: Dari Kemiskinan Hingga Kehidupan Baru – Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

Temukan kisah inspiratif Pak Belalang dan putranya yang cerdik dalam menghadapi kemiskinan dengan akal bulus. Baca cerita rakyat dari Kalimantan Selatan yang penuh pelajaran hidup.

DONGENGHOME

✍️ Diadaptasi oleh: Ebi Wijaya Latumeten (ISNI: 0000000527282121) & Neli Sri Nurani (ISNI: 000000052752360X)

7/5/2025

Kisah Pak Belalang: Dari Kemiskinan Hingga Kehidupan Baru, Dongeng Kalimantan Selatan

The Tale of Pak Belalang: From Poverty to a New Life
The Tale of Pak Belalang: From Poverty to a New Life

Cerita ini merupakan hasil adaptasi dan pelestarian dari cerita rakyat yang telah diturunkan secara lisan dalam budaya masyarakat Kalimantan Selatan. Kami tidak mengklaim kepemilikan atas kisah aslinya, namun berusaha melestarikannya dalam bentuk tulisan agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang. - Ebi Wijaya Latumeten

Catatan Penting:

Di sebuah desa asri di Kalimantan Selatan, hiduplah seorang pria bernama Pak Belalang bersama putranya yang masih kecil namun sangat cerdik. Mereka tinggal dalam kemiskinan yang cukup parah. Pak Belalang bukanlah sosok pekerja keras; ia lebih suka bermimpi mencari cara instan untuk kaya daripada bekerja di ladang atau berdagang.

Setiap hari, perut mereka sering keroncongan. Suatu sore, Pak Belalang duduk termenung sambil mengusap-usap perutnya yang lapar. Ia lalu bertanya pada anaknya, “Bagaimana caranya kita bisa makan enak setiap hari ya, Nak? Ayah sudah lelah begini-begini saja.”

Dengan spontan, sebuah ide gila melintas di benaknya. “Eureka! Ayah tahu! Kita akan berpura-pura jadi peramal sakti!” katanya bersemangat.

Anaknya menatap ayahnya dengan tatapan campur antara bingung dan penasaran. Meski terdengar tidak masuk akal, ia memutuskan untuk mendukung rencana ayahnya, dengan harapan bisa membawa perubahan dalam hidup mereka.

Pak Belalang pun membuat pengumuman keliling desa:

“Awas! Awas! Telah datang peramal ulung dari jauh, yang bisa melihat masa lalu dan masa depan! Barang siapa kehilangan sesuatu, datanglah kepadanya! Ia adalah peramal Pak Belalang!”

Padahal, modal Pak Belalang hanyalah akal bulus, penampilan yang dibuat-buat, dan kantong kosong. Namun, entah bagaimana, penduduk desa mulai percaya bahwa Pak Belalang adalah peramal hebat.

Kasus Pertama: Ayam Hilang dan Kejelian Sang Anak

Beberapa hari setelah pengumuman itu, seorang warga datang karena ayam kesayangannya hilang. Ia berkata, “Pak Peramal, tolong saya! Ayam saya hilang. Bisakah Bapak menemukannya?”

Pak Belalang pura-pura merapat, menutup mata, dan menggerak-gerakkan tangannya seolah membaca mantra. “Oh... ayam... aku melihatnya... ada di semak-semak belakang rumahmu!”

Warga itu langsung pulang dan mencari. Benar saja, ayamnya sedang mencari cacing di semak-semak belakang rumah. Ia sangat takjub dan menyebarkan kabar tentang kehebatan Pak Belalang ke seluruh desa.

Namun, yang sebenarnya terjadi adalah aksi diam-diam sang anak. Saat pemilik ayam menjelaskan masalahnya, anak Pak Belalang mengikuti jejak kaki ayam hingga menemukan lokasinya. Lalu ia memberi tahu ayahnya secara rahasia. Inilah awal dari kesuksesan mereka sebagai “peramal sakti”.

Kasus Kedua: Perhiasan Hilang dan Telinga Tajam Sang Anak

Tidak lama berselang, seorang saudagar kaya datang panik. “Pak Peramal, tolong saya! Perhiasan istri saya hilang. Saya akan memberikan hadiah besar jika Bapak bisa menemukannya.”

Pak Belalang kembali beraksi dengan ritual “meramal” seperti biasa. Sementara itu, sang anak menyelinap dan mendengarkan percakapan para pembantu di dapur.

Ia mendengar dua pembantu berbisik, “Wah, gawat! Jangan sampai ketahuan kalau kita sembunyikan perhiasan itu di bawah tempat tidur Tuan Putri.”

Sang anak langsung kembali dan memberi tahu ayahnya. Pak Belalang pun berkata dengan yakin, “Perhiasan Anda ada di bawah tempat tidur Tuan Putri!”

Saudagar itu memeriksa dan ternyata benar. Ia sangat senang dan memberi banyak hadiah kepada Pak Belalang. Nama Pak Belalang pun semakin populer bahkan sampai ke telinga raja.

Ujian dari Raja: Lima Cincin dan Akal Bulus Terakhir

Raja yang penasaran memanggil Pak Belalang ke istana. “Aku ingin mengujimu. Aku telah menyembunyikan lima cincin di tanganku. Bisakah kau menebak jumlahnya dan apa bahan pembuatnya?”

Pak Belalang mulai panik. Kali ini tidak ada jejak yang bisa diikuti atau pembantu yang bisa didengar. Ia mulai berpikir keras.

Dengan ekspresi serius, ia pura-pura merutuk dirinya sendiri, “Oh, Belalang… Belalang… kamu memang bodoh!”

Raja bertanya, “Kenapa kau maki dirimu sendiri?”

Pak Belalang menjawab, “Saya merasa bodoh karena tidak bisa menebak lima cincin ini dengan cepat.”

“Benar! Memang ada lima cincin,” kata Raja terkejut. “Bagaimana kau tahu?”

Pak Belalang tersenyum dalam hati. Ia hanya menebak, dan untungnya Raja langsung menyebut jawaban yang benar.

Lalu Raja bertanya lagi, “Sekarang, terbuat dari apa cincin-cincin ini?”

Pak Belalang melihat hidangan di depannya: nasi dan terung. Ia pun menjawab dengan yakin, “Terbuat dari emas dan perak. Seperti nasi yang mengenyangkan dan terung yang lezat.”

Raja kembali terkejut. “Benar! Satu emas dan empat perak. Kau benar-benar peramal hebat!”

Akhirnya, Pak Belalang diangkat sebagai peramal istana dengan gaji besar. Ini adalah keberuntungan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kehidupan Baru dan Pelajaran Berharga

Sejak saat itu, Pak Belalang dan anaknya hidup dalam kemewahan. Mereka tidak lagi miskin. Meskipun kekayaan mereka didapat melalui akal-akalan, Pak Belalang akhirnya belajar untuk tidak malas dan menggunakan kecerdikannya untuk hal-hal yang baik.

Ia dan anaknya hidup bahagia selamanya.

Pelajaran Moral:

  • Kecerdikan dan kreativitas bisa menjadi solusi dalam kesulitan.

  • Anak yang cerdas dapat menjadi harapan dan inspirasi bagi orang tua.

  • Meski kadang jalan pintas bisa membawa hasil, kebahagiaan sejati datang dari usaha yang bijak dan jujur.

Baca Dongeng Lainnya