"Semua cerita di situs ini diadaptasi/ditulis ulang untuk pelestarian budaya (tanpa klaim kepemilikan pribadi), oleh Ebi Wijaya Latumeten."

Hikayat Banjar: Kisah Legitimasi Raja-Raja Kalimantan Selatan dalam Sejarah dan Adat yang Mengakar

Jelajahi Hikayat Banjar, kisah epik tentang silsilah raja-raja Banjar dan legitimasi kekuasaan mereka di Kalimantan Selatan. Cerita ini menggambarkan sejarah lokal, adat istiadat, dan nilai-nilai budaya yang mendalam. Inspirasi untuk pecinta sejarah, travelling budaya, dan sastra tradisional.

HIKAYATHOME

✍️ Diadaptasi oleh: Ebi Wijaya Latumeten & Alma Wijaya πŸ“š Afiliasi: Bumi Manusia Foundation

7/19/2025

Sultan Adam al-Wathiq Billah, raja terakhir Kesultanan Banjar
Sultan Adam al-Wathiq Billah, raja terakhir Kesultanan Banjar

Catatan Penting:

Cerita ini merupakan hasil adaptasi dan pelestarian dari cerita rakyat yang telah diturunkan secara lisan dalam budaya masyarakat Kalimantan Selatan. Kami tidak mengklaim kepemilikan atas kisah aslinya, namun berusaha melestarikannya dalam bentuk tulisan agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang. - Ebi Wijaya Latumeten

Hikayat Banjar: Kisah Legitimasi Raja-Raja Kalimantan Selatan dalam Sejarah dan Adat yang Mengakar

Awal Mula Kerajaan Banjar

Pada zaman dahulu kala, di tanah Kalimantan Selatan yang subur dan dipenuhi aliran sungai besar, terdapat sebuah kerajaan besar bernama Banjar. Kerajaan ini dikenal sebagai pusat perdagangan, kebudayaan, dan adat istiadat yang kaya. Namun, di balik kemegahannya, ada kisah panjang tentang silsilah para raja dan bagaimana mereka mendapatkan legitimasi kekuasaan.

Hikayat Banjar adalah naskah kuno yang menceritakan asal-usul kerajaan Banjar, perjalanan para raja, dan bagaimana mereka memperoleh hak untuk memimpin rakyatnya. Kisah ini tidak hanya menunjukkan sejarah lokal, tetapi juga menggambarkan pentingnya adat dan nilai-nilai tradisional dalam kehidupan masyarakat Banjar.

Asal-Usul Kerajaan Banjar

Dikisahkan bahwa kerajaan Banjar didirikan oleh seorang tokoh legendaris bernama Patih Masih , seorang pemimpin bijaksana yang datang dari negeri seberang. Ia tiba di tanah Banjar bersama rombongannya, membawa ilmu pengetahuan, agama, dan tata cara hidup yang tertib.

Patih Masih kemudian menikahi seorang putri lokal bernama Putri Junjung Buih, yang memiliki garis keturunan suci. Pernikahan ini melahirkan generasi pertama penguasa kerajaan Banjar, yang dianggap memiliki darah mulia dan legitimasi ilahi.

Sejak saat itu, setiap raja Banjar harus memenuhi dua syarat utama untuk memperoleh legitimasi: darah keturunan suci dan pengakuan dari rakyat. Hal ini menjadi dasar bagi sistem pemerintahan kerajaan Banjar selama berabad-abad.

Antara Adat dan Agama

Salah satu kisah paling terkenal dalam Hikayat Banjar adalah tentang Sultan Suriansyah, raja pertama yang memeluk agama Islam di Banjar. Konon, Sultan Suriansyah awalnya adalah seorang pangeran Hindu yang taat kepada adat nenek moyang. Namun, ia kemudian bertemu dengan seorang ulama sufi bernama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yang membuka matanya terhadap ajaran Islam.

Setelah memeluk Islam, Sultan Suriansyah mengubah nama kerajaannya menjadi Kesultanan Banjar. Ia memperkenalkan sistem pemerintahan baru yang menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan adat istiadat lokal. Langkah ini membuatnya mendapatkan pengakuan luas dari rakyat, karena ia dianggap sebagai pemimpin yang bijaksana dan saleh.

Namun, legitimasi kekuasaan Sultan Suriansyah tidak hanya berasal dari agama. Ia juga menjaga tradisi adat Banjar, seperti upacara Maulid Nabi yang dirayakan dengan meriah dan ritual Tingkapan (pertemuan adat). Dengan cara ini, ia berhasil mempertahankan harmoni antara agama dan adat, serta memperkuat kedudukannya sebagai pemimpin.

Perjuangan Melawan Penjajah

Selain menceritakan silsilah raja-raja Banjar, Hikayat Banjar juga mengisahkan perjuangan para penguasa melawan penjajah Belanda. Salah satu kisah paling heroik adalah tentang Sultan Adam al-Wathiq Billah, raja terakhir Kesultanan Banjar.

Pada masa pemerintahannya, Belanda mencoba menguasai wilayah Banjar dengan paksa. Sultan Adam, yang dikenal sebagai pemimpin yang teguh dan berani, menolak tunduk kepada penjajah. Ia memimpin perlawanan rakyat Banjar dalam sebuah perang besar yang dikenal sebagai Perang Banjar.

Meskipun akhirnya kalah karena kekuatan militer Belanda yang lebih besar, perjuangan Sultan Adam menjadi simbol keteguhan dan cinta tanah air. Hingga hari ini, namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional Indonesia, dan kisahnya terus diceritakan dalam Hikayat Banjar.

Pelajaran dari Hikayat Banjar

Hikayat Banjar mengajarkan kita beberapa nilai penting tentang sejarah lokal, legitimasi kekuasaan, dan adat istiadat. Pertama, kisah ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki legitimasi yang kuat, baik dari segi keturunan maupun pengakuan rakyat. Tanpa dukungan rakyat, kekuasaan seorang pemimpin tidak akan bertahan lama.

Kedua, Hikayat Banjar menekankan pentingnya harmoni antara agama dan adat. Para raja Banjar berhasil mempertahankan kekuasaan mereka karena mampu menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan tradisi lokal, sehingga menciptakan sistem pemerintahan yang adil dan diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Terakhir, kisah ini mengingatkan kita tentang pentingnya cinta tanah air dan perjuangan melawan penindasan. Perang Banjar adalah contoh nyata bagaimana rakyat Banjar bersatu untuk melawan penjajah demi mempertahankan kebebasan dan identitas mereka.

Relevansi dengan Travelling Budaya

Hikayat Banjar bukan hanya bagian dari sastra tradisional Kalimantan Selatan, tetapi juga warisan budaya yang masih hidup hingga hari ini. Tempat-tempat seperti Istana Kesultanan Banjar di Martapura, makam-makam para raja, dan situs sejarah lainnya menawarkan pengalaman travelling yang mendalam. Melalui kunjungan ke tempat-tempat ini, kita dapat merasakan esensi cerita Hikayat Banjar dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Misalnya, Istana Kesultanan Banjar adalah destinasi wisata yang menarik untuk mempelajari sejarah kerajaan Banjar. Di sana, pengunjung dapat melihat artefak-artefak kuno, lukisan-lukisan sejarah, dan arsitektur tradisional Banjar yang megah.

Pesan Moral

Hikayat Banjar mengajarkan kita bahwa sejarah lokal adalah bagian penting dari identitas sebuah bangsa. Kisah para raja Banjar menunjukkan pentingnya legitimasi kekuasaan, harmoni antara agama dan adat, serta cinta tanah air. Nilai-nilai ini masih relevan hingga hari ini dan dapat menjadi inspirasi bagi generasi modern untuk menjaga warisan budaya dan memperjuangkan keadilan.

Related Stories